Karya Guru

Tripusat Pendidikan yang Kian Terlupakan

115
×

Tripusat Pendidikan yang Kian Terlupakan

Sebarkan artikel ini
Tripusat Pendidikan yang Kian Terlupakan
Ilustrasi Ki Hajar Dewantara Tripusat Pendidikan yang Kian Terlupakan

Indonesia kerap dibanggakan sebagai bangsa yang ramah, santun, dan menjunjung tinggi gotong royong. Namun belakangan, kita semakin sering menyaksikan gejala sosial yang mengganggu: kekerasan di kalangan pelajar, budaya perundungan, intoleransi yang mudah tersulut, hingga kebiasaan menyelesaikan masalah dengan emosi. Perubahan ini tidak lahir dalam ruang kosong. Ia merupakan cermin dari melemahnya fondasi pendidikan nilai, terutama pendidikan karakter.

Ketika fenomena itu terjadi, sekolah sering menjadi sasaran utama kritik. Guru dianggap gagal, kurikulum dipertanyakan, dan lembaga pendidikan disudutkan seolah menjadi pihak paling bertanggung jawab. Padahal, menyederhanakan persoalan pendidikan karakter hanya pada sekolah justru menutup akar masalah yang lebih luas. Pendidikan bukan hanya urusan ruang kelas.

Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional, sejak awal telah menegaskan bahwa pendidikan sejati berdiri di atas tiga pilar: keluarga, sekolah, dan masyarakat. Gagasan ini dikenal sebagai tripusat pendidikan. Dalam konsep tersebut, pembentukan manusia tidak mungkin diserahkan pada satu institusi. Pendidikan adalah ekosistem sosial. Ketika satu pilar melemah, maka hasil pendidikan akan timpang.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan modern, tripusat pendidikan ini semakin terabaikan. Banyak orang tua merasa cukup ketika anak sudah “disekolahkan”. Banyak sekolah merasa urusan selesai ketika materi kurikulum tersampaikan. Sementara masyarakat sering bersikap pasif, hanya menjadi penonton yang gemar mengeluh tentang perilaku generasi muda. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan kehilangan daya membentuk karakter.

Keluarga sejatinya adalah pusat pendidikan pertama. Dalam tradisi Islam dikenal ungkapan “Al-ummu madrasatul ula”—ibu adalah sekolah pertama. Hadis Nabi juga menegaskan bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, lalu orang tuanyalah yang membentuk arah keyakinan dan nilai hidupnya. Maknanya jelas: orang tua bukan hanya bertugas memberi nafkah, tetapi juga membentuk watak.

Namun realitas hari ini menunjukkan, banyak keluarga kehilangan fungsi mendidiknya. Kesibukan kerja dan tekanan ekonomi sering membuat komunikasi antara orang tua dan anak menjadi minim. Rumah tidak lagi menjadi ruang dialog, melainkan sekadar tempat singgah. Anak tumbuh bersama gawai, tetapi miskin teladan. Dalam situasi seperti itu, nilai yang mestinya ditanamkan lewat keteladanan justru digantikan oleh pengaruh media sosial yang bebas, cepat, dan sering tidak beretika.

Ketika keluarga melemah, sekolah menerima limpahan beban. Sekolah menjadi tumpuan pembentukan moral, bahkan sering diminta “memperbaiki” apa yang tidak selesai di rumah. Padahal sekolah sendiri menghadapi tekanan sistemik. Kurikulum yang padat, target capaian akademik, serta tuntutan administrasi membuat banyak guru kesulitan memberi pendampingan karakter secara mendalam. Tidak jarang guru lebih sibuk menyelesaikan laporan daripada membangun relasi pendidikan yang hangat.

Dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara, sekolah seharusnya menuntun kodrat anak, bukan mencetak anak seragam. Sekolah harus menjadi ruang pembelajaran yang memerdekakan: membangun daya pikir, membentuk kepekaan sosial, serta menanamkan nilai tanggung jawab. Namun jika sekolah hanya menjadi arena mengejar nilai ujian, maka pendidikan akan melahirkan anak yang mungkin pintar secara kognitif, tetapi rapuh dalam pengendalian diri.

Kerapuhan ini terlihat dari berbagai fenomena sosial: siswa mudah marah, sulit menghargai perbedaan, tidak tahan kritik, bahkan menganggap kekerasan sebagai hal biasa. Dalam konteks ini, pendidikan karakter tidak cukup dijadikan program tambahan. Ia harus menjadi napas utama pendidikan.

Pusat ketiga, masyarakat, juga memiliki peran yang sering diabaikan. Masyarakat adalah ruang nyata tempat anak mempraktikkan nilai yang ia peroleh. Di lingkungan sosial, anak belajar berinteraksi, memahami aturan hidup bersama, serta mengembangkan keberanian dan kemandirian. Budaya gotong royong, tradisi lokal, serta semangat kebangsaan seharusnya diwariskan lewat pengalaman langsung di masyarakat.

Namun masyarakat kita pun mengalami perubahan. Ruang publik semakin individualistik. Kegiatan sosial menurun, keteladanan tokoh masyarakat melemah, dan anak-anak sering kehilangan ruang aman untuk tumbuh. Dalam kondisi seperti itu, nilai yang diwariskan bukan lagi solidaritas, melainkan budaya instan dan gaya hidup kompetitif. Anak akhirnya belajar dari lingkungan yang tidak selalu mendidik.

Karena itu, membicarakan pendidikan karakter harus dimulai dengan kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Keluarga menanamkan fondasi nilai, sekolah mengembangkan potensi dan membentuk disiplin, sedangkan masyarakat menyediakan ruang pengamalan dan pendewasaan. Jika salah satu unsur tidak berjalan, anak akan mengalami kebingungan nilai. Ia mudah mencari panutan alternatif, dan sering kali panutan itu datang dari dunia digital yang tidak selalu sehat.

Menghidupkan kembali tripusat pendidikan bukan sekadar nostalgia terhadap gagasan Ki Hadjar Dewantara. Ini kebutuhan mendesak. Kita tidak bisa berharap sekolah bekerja sendirian, sementara keluarga dan masyarakat berjalan tanpa arah. Pendidikan bukan hanya soal kelulusan, melainkan soal kualitas manusia.

Bangsa ini tidak akan runtuh karena kekurangan orang pintar. Bangsa ini akan rapuh jika kehilangan manusia yang berkarakter. Dan karakter hanya bisa tumbuh jika tripusat pendidikan kembali bekerja, bukan sekadar menjadi teori yang dihafal, tetapi menjadi gerakan bersama yang nyata.

Ukuran Teks
a A
Kecil Sedang Besar