Berita

Anak SD di Desa Ini Bikin Pawai Ramadhan Tanpa Laminating, dan Saya Merasa Sedikit Disindir

153
×

Anak SD di Desa Ini Bikin Pawai Ramadhan Tanpa Laminating, dan Saya Merasa Sedikit Disindir

Sebarkan artikel ini
Anak SD di Desa Ini Bikin Pawai Ramadhan Tanpa Laminating, dan Saya Merasa Sedikit Disindir

Sabtu pagi, 14 Februari 2026, pukul 07.00, saat sebagian manusia masih negosiasi sama alarm, halaman SDN 1 Sokanegara sudah ramai.

Anak-anak berbaris, asmaul Husna dilafalkan dengan volume yang tidak selalu stabil, kadang khusyuk, kadang seperti sedang lomba siapa paling keras. Tapi justru itu yang bikin terasa hidup, ciri khas anak-anak. 

Di Desa Sokanegara, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga, lebih dari seratus anak dari SDN 1 Sokanegara dan TK Pertiwi Sokanegara bersiap pawai tarhib Ramadhan. Acara dibuka dengan salat dhuha berjamaah.

Bagian ini sakral, anak-anak cukup tenang, guru-guru terlihat teduh. Sampai kemudian sesi sakral itu selesai dan dunia kembali seperti semula: riuh, penuh tawa, dan sedikit chaos karena ada replika unta yang hampir belok sendiri. Ya, ada unta. Replika unta, sedikit lucu, ceria nan menggemaskan.

Di belakangnya ada replika masjid, lalu gunungan ala sadran berisi jajanan anak-anak, perpaduan Timur Tengah dan tradisi lokal yang mungkin tidak pernah dibahas di seminar pendidikan karakter, tapi nyata adanya. 

Belum selesai sampai situ. Anak-anak juga membawa pohon jajan, ranting-ranting yang ditancapi ciki, wafer, permen, sampai snack yang rasanya selalu lebih nikmat kalau dimakan rame-rame.

Pohon-pohon kecil itu diarak dengan bangga, seperti trofi yang tak perlu piala. Dan yang paling manis, jajanan itu tidak dibawa pulang untuk rebutan di kelas. Mereka membagikannya kepada warga yang menonton di pinggir jalan.

Anak-anak pakai kostum ala Timur Tengah. Ada yang sorbannya sudah miring sebelum start. Ada yang gamisnya terlalu panjang sampai nyaris diinjak sendiri.

Tapi yang bikin saya berhenti dan berpikir justru poster mereka, poster yang dibuat sendiri. Ditulis tangan, dengan spidol warna-warni, crayon yang terkadang sudah agak sedikit keras. Hurufnya tidak selalu lurus.

Ada yang terlalu besar di awal lalu mengecil di akhir karena kehabisan ruang. Ada yang mungkin salah eja tapi tetap percaya diri diangkat tinggi-tinggi. Dan entah kenapa, melihat itu saya merasa sedikit disindir.

Karena kita, orang dewasa, sering terlalu sibuk bikin semuanya terlihat “wah”. Banner harus besar, font harus estetik, background harus sesuai tema.

Kalau bisa sekalian ada sponsor dan backdrop ukuran tiga meter biar “kelihatan keren”. Kadang rapat persiapannya lebih panjang daripada acaranya sendiri.

Dokumentasinya lebih penting daripada maknanya. Kita terlalu sering terjebak pada budaya seremonial: yang penting kelihatan ramai, kelihatan tertib, kelihatan sukses. Sampai-sampai lupa bertanya, “Anak-anaknya bahagia nggak, ya?” 

Di tengah keramaian itu, Kepala SDN 1 Sokanegara, Sidin, S.Pd.SD., memberi sambutan sebelum rombongan diberangkatkan. “Anak-anak ini bukan sekadar pawai,” katanya. “Ini cara kami mengenalkan Ramadhan dengan gembira.

Biar mereka belajar bahwa menyambut bulan suci itu tidak harus mewah, tapi harus bermakna. Kalau mereka bisa berbagi jajanan hari ini dengan senang hati, semoga kelak mereka juga tumbuh jadi pribadi yang ringan berbagi.”

Pawai dimulai dari halaman sekolah, memutari sebagian desa, lalu kembali lagi. Banyak warga yang keluar rumah, ada yang melambaikan tangan, ada yang tersenyum, ada yang tertegun, ada juga yang sibuk merekam, mungkin untuk diunggah ke status WhatsApp dengan diberi caption “MasyaAllah TabarakAllah!” .

Tidak ada panggung megah, tidak ada sound horeg yang bikin dada bergetar. Tapi suasananya hangat dan sederhana, seperti apa biasanya. 

Di antara barisan guru ada Arif Muzayyin, S.Pd., Gr., yang di media sosial dikenal sebagai “Zayn – Guru PAI Gen Z”. Namanya sering lewat di FYP TikTok atau muncul di beranda Instagram dengan konten-konten edukatifnya.

Tapi pagi itu ia tidak sedang mengejar algoritma. Ia sedang memastikan barisan tetap rapi dan anak-anak tidak berlarian terlalu jauh.

Katanya, pawai ini untuk menumbuhkan kecintaan pada Ramadhan sejak dini. Kalimat yang mungkin terdengar klise, tapi begitulah adanya. 

Ramadhan belum tiba. Tapi di Sokanegara, ia sudah disambut dengan cara yang sederhana, kreatif, dan yang paling penting, tidak pura-pura megah.

Padahal kalau mau jujur, sekolah ini bukan sekolah yang sepi kegiatan. Tidak ada hari tanpa pembiasaan keagamaan.

Tidak ada momen besar tanpa partisipasi. Prestasi datang silih berganti, muridnya naik podium, gurunya menang lomba sampai tingkat provinsi.

Mereka rutin bikin kegiatan, dari festival payung sampai pawai Ramadhan. Tapi entah kenapa, karena labelnya “negeri”, ia sering dipandang sebelah mata. 

Seolah-olah religiusitas harus punya stempel yayasan. Seolah-olah kesungguhan harus berbadan organisasi tertentu. Seolah-olah nilai itu baru sah kalau ada embel-embelnya.

Padahal pagi itu, tanpa baliho besar, tanpa klaim paling islami, tanpa perlu banyak deklarasi, anak-anak berjalan membawa poster buatan tangan mereka sendiri.

Mereka salat dhuha, melafalkan Asmaul Husna. Mereka menyambut Ramadhan dengan riang, tidak ada yang dibuat-buat.

Dan mungkin justru di situlah letak kemewahannya. Karena kadang, yang paling tulus justru yang paling jarang dipuji. Yang paling konsisten justru yang paling sering dianggap biasa saja.

Tapi seperti replika unta yang sedikit oleng tadi pagi, sekolah ini tetap berjalan. Tidak terlalu simetris. Tidak terlalu glamor. Tapi terus bergerak. Terus berprestasi. Terus menanam nilai.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika orang-orang sibuk membanggakan papan nama dan label besar, mereka akan sadar bahwa di sebuah desa kecil bernama Sokanegara, ada sekolah negeri yang diam-diam sudah membuktikan: kualitas tidak pernah bergantung pada label.

Ia bergantung pada kerja. Pada niat. Dan pada keberanian untuk tetap berjalan, meski tak selalu dianggap.

Ukuran Teks
a A
Kecil Sedang Besar